Menurut
bahasa, istiqâmah artinya adalah al-i’tidâl (lurus). Sedang menurut
syari’at, istiqâmah adalah meniti jalan lurus yaitu agama yang lurus
(Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqâmah mencakup
melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi
dan meninggalkan seluruh yang dilarang.
Istiqâmah Adalah Meniti ash-shirâthal Mustaqîm?
YA.
Istiqâmah adalah meniti ash-shirâthal mustaqîm, yaitu agama yang lurus yang tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup pengamalan seluruh ketaatan, yang lahir maupun batin serta meninggalkan larangan yang lahir maupun batin. Jadi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi wasiat yang menghimpun seluruh ajaran agama. Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para pengikutnya agar istiqâmah di atas syari’at yang bijaksana, karena hal ini adalah agama yang kita diperintahkan untuk beribadah dengannya. Sedangkan selain Islam yaitu pendapat para tokoh yang kosong dari dalil tidak bisa disebut agama dan tidak pula sebagai hujjah.
Istiqâmah adalah meniti ash-shirâthal mustaqîm, yaitu agama yang lurus yang tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup pengamalan seluruh ketaatan, yang lahir maupun batin serta meninggalkan larangan yang lahir maupun batin. Jadi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi wasiat yang menghimpun seluruh ajaran agama. Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para pengikutnya agar istiqâmah di atas syari’at yang bijaksana, karena hal ini adalah agama yang kita diperintahkan untuk beribadah dengannya. Sedangkan selain Islam yaitu pendapat para tokoh yang kosong dari dalil tidak bisa disebut agama dan tidak pula sebagai hujjah.
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka
tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah
diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan
janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.” [Hûd/11:112]
Bagaimana dengan Istiqâmah Hati?
Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqâmah. Karena hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuhnya. Jika hati istiqâmah, maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut istiqâmah.
Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqâmah. Karena hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuhnya. Jika hati istiqâmah, maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut istiqâmah.
Dasar
dari istiqâmah adalah keistiqâmah-an hati di atas tauhid seperti
penafsiran Abu Bakar ash-shiddîq dan lain-lain tentang firman Allah SWT,
إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah Azza wa Jalla,”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka…(al-Ahqâf/46:13)
Bahwa
mereka adalah, orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah dan
tidak menoleh kepada tuhan selain Allah. Jadi, jika hati telah istiqâmah
di atas ma’rifatullâh, takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, segan
kepada-Nya, mencintai-Nya, menginginkan-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa
kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan berpaling dari selain Dia, maka
sungguh, seluruh anggota badan akan istiqâmah dengan taat kepada-Nya.
Karena hati adalah raja bagi organ tubuh (lainnya) yang merupakan
pasukan hati. Jika raja sudah istiqâmah, maka pasukan dan rakyatnya akan
istiqâmah pula.
Lalu, bagaimana dengan Istiqâmah Lisan?
Anggota tubuh yang terpenting yang perlu mendapatkan perhatian setelah hati adalah lisan. Karena lisan adalah media yang mengungkapkan apa yang tersimpan dalam lubuk hati. Terkadang keluar ucapan yang dianggap sepele namun dapat membuat pengucapnya binasa di dunia dan akhirat.
Anggota tubuh yang terpenting yang perlu mendapatkan perhatian setelah hati adalah lisan. Karena lisan adalah media yang mengungkapkan apa yang tersimpan dalam lubuk hati. Terkadang keluar ucapan yang dianggap sepele namun dapat membuat pengucapnya binasa di dunia dan akhirat.
Dalam
hadits ini, ketika Sufyân bin ’Abdillâh Radhiyallahu anhu bertanya,
”Apa yang engkau khawatirkan padaku?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, ”Ini,” sambil memegang ujung lidah beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam . Ini menunjukkan bahwa lisan sangat berbahaya, sebab seseorang
dapat istiqâmah apabila lisannya istiqâmah dalam ketaatan atau tidak
mengucapkan perkataan yang mendatangkan dosa dan murka Allah.
Dan kebanyakan yang menyeret manusia ke neraka adalah lisan. Banyak nash
yang berisi ancaman bagi yang membiarkan lisannya begitu saja tanpa
kendali.
إِنَّ
الْعَبْدَ لَـيَـتَـكَـلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَـتَـبَـيَّـنُ مَا
فِـيْهَا يَـهْوِيْ بِـهَا فِـى النَّـارِ أَبْـعَدَ مَا بَيْـنَ
الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ
“Sesungguhnya
seorang hamba mengucapkan kata-kata yang tidak jelas, maka akan
menjerumuskannya ke dalam Neraka lebih jauh daripada apa yang ada di
antara timur dan barat.”
Demikian pula banyak nash yang mendorong agar menjaga lisan dan meluruskannya sesuai dengan perintah Allah. Di antaranya:
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” [Qâf/50:18]
Dalam
ayat ini terdapat penjelasan bahwa semua ucapan manusia akan dihisab.
Ada Malaikat yang selalu mengawasi semua perkataan manusia dan selalu
menulisnya, baik yang baik maupun yang buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَازَعِيْمٌ
فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَوَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ,
وَأَناَزَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ
وَ إِنْ كَانَ مَا زِحًا , وَأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى
الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku
menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di taman-taman Surga bagi
orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia yang benar; aku menjamin
dengan sebuah istana yang terdapat di tengah Surga bagi orang yang
meninggalkan dusta meskipun ia hanya bercanda; dan aku menjamin dengan
sebuah istana di Surga yang tertinggi bagi orang yang membaguskan
akhlaknya.”
Kiat Menggapai Istiqâmah
Di antara kiat yang dapat mengantarkan kepada istiqâmah dalam berbagai kondisi, perkataan, dan perbuatan ialah:
Di antara kiat yang dapat mengantarkan kepada istiqâmah dalam berbagai kondisi, perkataan, dan perbuatan ialah:
- Taubat nasûha.
- Murâqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla, baik ketika tidak terlihat orang lain maupun saat terlihat.
- Muhâsabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.
- Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa dalam ketaatan kepada Allah SWT.
1. Ikhlas dalam beramal dan mutâba’ah (mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
2. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
3. Berani dalam melakukan amar ma’rûf dan nahi munkar.
4. Menuntut ilmu syar’i.
5. Takut kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengingat siksa Neraka yang sangat pedih.
6. Mencari teman yang shalih.
7. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan dari yang diharamkan.
8. Mengetahui langkah-langkah setan.
9. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqâmah.
Alhamdulillah.. Bagaimana akhi wa ukhti? Sudahkah kalian beristiqamah? Jika belum, mari bersama-sama kita memulai meng-istiqamahkan diri hanya kepada-Nya, dan jika sudah, teguhkanlah Istiqamahnya insya Allah agar kita tetap berada dekat dengan diri-Nya.. :D
Semoga postingan kali ini sama bermanfaatnya dengan postingan sebelumnya ya akhi wa ukhti :)
Wassalamualaikum!
