Monday, 15 April 2013

istiqâmah

Menurut bahasa, istiqâmah artinya adalah al-i’tidâl (lurus). Sedang menurut syari’at, istiqâmah adalah meniti jalan lurus yaitu agama yang lurus (Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqâmah mencakup melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang.
Istiqâmah Adalah Meniti ash-shirâthal Mustaqîm?
YA.
Istiqâmah adalah meniti ash-shirâthal mustaqîm, yaitu agama yang lurus yang tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup pengamalan seluruh ketaatan, yang lahir maupun batin serta meninggalkan larangan yang lahir maupun batin. Jadi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi wasiat yang menghimpun seluruh ajaran agama. Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para pengikutnya agar istiqâmah di atas syari’at yang bijaksana, karena hal ini adalah agama yang kita diperintahkan untuk beribadah dengannya. Sedangkan selain Islam yaitu pendapat para tokoh yang kosong dari dalil tidak bisa disebut agama dan tidak pula sebagai hujjah.
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Hûd/11:112]
Bagaimana dengan Istiqâmah Hati?
Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqâmah. Karena hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuhnya. Jika hati istiqâmah, maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut istiqâmah.
Dasar dari istiqâmah adalah keistiqâmah-an hati di atas tauhid seperti penafsiran Abu Bakar ash-shiddîq dan lain-lain tentang firman Allah SWT,
 إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah Azza wa Jalla,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka…(al-Ahqâf/46:13)
Bahwa mereka adalah, orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah dan tidak menoleh kepada tuhan selain Allah. Jadi, jika hati telah istiqâmah di atas ma’rifatullâh, takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, segan kepada-Nya, mencintai-Nya, menginginkan-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan berpaling dari selain Dia, maka sungguh, seluruh anggota badan akan istiqâmah dengan taat kepada-Nya. Karena hati adalah raja bagi organ tubuh (lainnya) yang merupakan pasukan hati. Jika raja sudah istiqâmah, maka pasukan dan rakyatnya akan istiqâmah pula.
Lalu, bagaimana dengan Istiqâmah Lisan?
Anggota tubuh yang terpenting yang perlu mendapatkan perhatian setelah hati adalah lisan. Karena lisan adalah media yang mengungkapkan apa yang tersimpan dalam lubuk hati. Terkadang keluar ucapan yang dianggap sepele namun dapat membuat pengucapnya binasa di dunia dan akhirat.
Dalam hadits ini, ketika Sufyân bin ’Abdillâh Radhiyallahu anhu bertanya, ”Apa yang engkau khawatirkan padaku?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Ini,” sambil memegang ujung lidah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini menunjukkan bahwa lisan sangat berbahaya, sebab seseorang dapat istiqâmah apabila lisannya istiqâmah dalam ketaatan atau tidak mengucapkan perkataan yang mendatangkan dosa dan murka Allah. Dan kebanyakan yang menyeret manusia ke neraka adalah lisan. Banyak nash yang berisi ancaman bagi yang membiarkan lisannya begitu saja tanpa kendali.
إِنَّ الْعَبْدَ لَـيَـتَـكَـلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَـتَـبَـيَّـنُ مَا فِـيْهَا يَـهْوِيْ بِـهَا فِـى النَّـارِ أَبْـعَدَ مَا بَيْـنَ الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata yang tidak jelas, maka akan menjerumuskannya ke dalam Neraka lebih jauh daripada apa yang ada di antara timur dan barat.”
Demikian pula banyak nash yang mendorong agar menjaga lisan dan meluruskannya sesuai dengan perintah Allah. Di antaranya:
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” [Qâf/50:18]
Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa semua ucapan manusia akan dihisab. Ada Malaikat yang selalu mengawasi semua perkataan manusia dan selalu menulisnya, baik yang baik maupun yang buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَازَعِيْمٌ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَوَإِنْ كَانَ مُحِقًّا , وَأَناَزَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَ إِنْ كَانَ مَا زِحًا , وَأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di taman-taman Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia yang benar; aku menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia hanya bercanda; dan aku menjamin dengan sebuah istana di Surga yang tertinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
Kiat Menggapai Istiqâmah
Di antara kiat yang dapat mengantarkan kepada istiqâmah dalam berbagai kondisi, perkataan, dan perbuatan ialah: 
  • Taubat nasûha. 
  • Murâqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla, baik ketika tidak terlihat orang lain maupun saat terlihat. 
  • Muhâsabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan. 
  • Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Berbagai Wasilah (Cara) Agar Tetap Teguh Di Atas istiqâmah

1. Ikhlas dalam beramal dan mutâba’ah (mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
2. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
3. Berani dalam melakukan amar ma’rûf dan nahi munkar.
4. Menuntut ilmu syar’i.
5. Takut kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengingat siksa Neraka yang sangat pedih.
6. Mencari teman yang shalih.
7. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan dari yang diharamkan.
8. Mengetahui langkah-langkah setan.
9. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqâmah.

Alhamdulillah.. Bagaimana akhi wa ukhti? Sudahkah kalian beristiqamah? Jika belum, mari bersama-sama kita memulai meng-istiqamahkan diri hanya kepada-Nya, dan jika sudah, teguhkanlah Istiqamahnya insya Allah agar kita tetap berada dekat dengan diri-Nya.. :D 
Semoga postingan kali ini sama bermanfaatnya dengan postingan sebelumnya ya akhi wa ukhti :)  
Wassalamualaikum!

Sunday, 24 March 2013

Etika berdoa

Assalamualaikum ikhwahfillah :)

Dapat pembahasan yang menarik nih ane dari salah satu buku yang ane beli di IBF kemarin untuk para kaum muslimin :) Sekarang kita mau membahas etika berdoa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW nih.. semoga postingan ini bisa menambahan wawasan para muslimin ya :

1. Berdoa hanya kepada Allah :
    Janganlah kamu berdoa kepada selain Allah yang tidak akan memberi manfaat dan mudarat kepadamu. Jika kamu berbuat demikian, kamu termasuk orang-orang yang zalim.
    (QS Yunus [10] : 106)

2. Yakin akan dikabulkan

3. Berdoa dengan rendah hati dan suara lembut :
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan kerendahan hati dan suara lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-A'raf [7] : 55)

4. Tidak berlebih-lebihan dalam sikap dan permintaan

5. Memanjatkan doa dibarengi rasa takut dan penuh harap :
    Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut (tidak dikabulkan ) dan penuh harap. 
    Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
    (QS Al-A'raf [7] : 56)

6. Doa diulang sampai tiga kali :
    Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa apabila berdoa, Nabi berdoa tiga kali ; dan apabila memohon, memohon tiga kali. (HR Muslim)

7. Bukan mendoakan keburukan

8. Dipanjatkan sendiri :
    Rasullullah SAW bersabda, "Doa yang paling utama adalah doa yang dipanjatkan oleh diri 
    sendiri."  (HR Al-Hakim)

9. Menengadahkan bagian dalam telapak tangan :
    Rasullullah SAW bersabda, "Jika kamu meminta kepada Allah, mintalah dengan 
    menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Janganlah kamu memintanya dengan 
    menengadahkan punggung telapak tangan." (HR Abu Dawud)

10. Diawali dengan Asmaull Husna
      Serulah Allah atau Al-Rahman. Serulah dengan nama mana saja, karena Dia mempunyai 
      nama-nama terbaik. Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan  
      pula merendahkannya, tetapi antara keduanya. (QS Al-Isra' [17] : 110)

11. Dimulai dengan hamdalah dan shalawat

12. Menghadap kiblat
      Nabi mendatangi tempat wukuf di Arafah dan menghadap kiblat sambil terus berdoa hingga
      tenggelamnya matahari. (HR Muslim)

13. Mendoakan orang lain untuk kebaikan

14. Tidak mudah putus asa :
      "Sesungguhnya Allah SWT. mencintai orang-orang yang terus menerus berdoa."
       (HR Al-Auzai')


Nah! kurang lebih itu semua etika dalam berdoa teman! Gimana? Apa ukhti wa akhi sudah menjalani semua etikanya? :D kalau belum, tidak ada salahnya ya untuk kita mencoba. hihi
Semoga setelah membaca dan mepraktekannya kita semakin dekat dengan-Nya ya afwan.. Amin :D
Keep istiqomah wa hamasah wahai para pejuang Allah!!

Saturday, 23 March 2013

New post :)

Assalamualaikum orang-orang yang dimuliakan Allah :)

Salam kenal nih, kami dari Rohis SMA N 53 yang alhamdulilah baru kembali aktif di social media :) Yuk difollow blog nya sama twitter kami buat info-info seputar Islam dan kegiatan Rohis 53 :D
Insya Allah blog dan twitter yang kami buat ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua dalam menambah wawasan Islaminya dan membuat kita tetap semangat untuk berjuang di jalan Allah dengan senyuman ya, Sobat! Am

Ngomong-ngomong syukron udah mau baca postingan pertama kami juga nih ukhti wa akhi fillah :D udahin dulu ya.. :D

Wassalamualaikum! :)